IBX5980432E7F390 Sampah dan Problematikanya - Depok Netizen

Sampah dan Problematikanya

Depok Netizen | Saat ini, hampir semua kota dan daerah di Indonesia menghadapi persoalan yang sama yaitu persoalan sampah. Sampah setiap hari pasti ada, mulai dari sampah rumah tangga, sampah rumah makan, sampah perkantoran hingga sampah industri, dan lain lain. Jumlah atau volume sampah yang dihasilkan tergantung aktivitas manusia dan pertumbuhan penduduk serta perkembangan daerah atau kota, semakin tinggi aktivitas manusia maka semakin tinggi volumenya, semakin banyak penduduk, semakin banyak volume sampahnya.


Untuk ukuran perkotaan, jumlah volumenya nggak main-main bisa berton ton setiap hari seperti Jakarta misalnya, setiap hari menurut Dinas Lingkungan Hidup (LH) Jakarta dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), volume sampah di Jakarta berjumlah 7.500 hingga 8.500 ton per hari.

Bagaimana dengan Kota Depok? 

Kota Depok tak Volume sampah di Kota Depok berkisar 1.200 hingga 1.300 ton per harinya, dan yang diangkut ke tempat TPA Cipayung sekitar 1.100 hingga 1.200 ton per hari. Maka jangan heran kalau melihat TPS di beberapa lokasi yang masih menumpuk.

Kondisi TPA Cipayung Depok semakim kritis mengingat seluruh sampah di Kota Depok bermuara di TPA Cipayung. Luas TPA Cipayung saat ini hanya sekitar 11-an hektar, dan rencananya akan diperluas dengan tambahan seluas 5 (lima) hektar. Pembebasan lahannya baru terealisasi sekitar 2 (dua) hektar, sisanya seluas 3 (tiga) hektar masih dalam proses pembebasan lahan. Saat ini sampah yang ada di TPA Cipayung sekitar 2,6 juta meter kubik dengan ketinggian "gunungan" sampah mencapai 30 meter. Itu artinya sudah melampaui kapasitas daya tampung maksimal. Akibatnya, TPA Cipayung sudah seringkali mengalami longsor. Longsoran sampah tersebut menutupi dan mencemari aliran Sungai Pesanggrahan.

Dengan kondisi TPA Cipayung yang mendesak dan kritis tersebut, pemerintah sedang berupaya untuk mengurangi tumpukan sampah dengan membangun RDF (Refuse Derived Fuel) yaitu pengolahan sampah menjadi bahan bakar yang diperkirakan selesai pada pertengahan tahun 2026. Dengan adanya pengolahan RDF berkapasitas 500 hingga 1000 ton per hari, diharapkan tumpukan sampah di TPA pun lambat laun berkurang.

Seharusnya tanpa pengolahan RDF, tumpukan sampah bisa berkurang. Kenapa? Sampah yang ada di TPA Cipayung, 60 % hingga 70 % adalah sampah organik yang merupakan sampah sisa makanan, daun dan lain lain, sampah organik inilah yang menimbulkan bau tak sedap. Sisanya 30% hingga 40 % adalah sampah an-organik seperti kertas, plastik dan lain lain yang sulit terurai. 

Sampah organik bisa diolah menjadi kompos dan media tanam. Sebelum diangkut ke TPS maupun ke TPA seharusnya bisa diolah atau dipisahkan terlebih dahulu dari sumbernya, seperti rumah tangga, rumah makan dll. Namun tidak semudah itu, problematika pemisahan sampah apa lagi pengolahan sampah organik banyak, antara lain:

  • Kendala tempat, pengolahan sampah organik butuh lahan baik skala rumahan mau pun TPS.
  • Kendala biaya, pengolahan sampah organik butuh biaya misal untuk membeli atau membuat wadah, membeli bahan pengurai sampah dll.
  • Tanpa kedua kendala di atas saja banyak orang yang enggan memilah dan mengolah sampah organik, apa lagi jadi ditambah kedua kendala tersebut makin membuat orang enggan atau katakanlah malas untuk melakukannya.

Kita makin pesimis dengan persoalan sampah, boro boro memilah dan mengolah sampah organik, lah faktanya masih banyak sekali masyarakat yang membuang sampah sembarangan, seperti membuang sampah ke sungai atau membuang sampah di luar tempat tinggalnya. 

0 Komentar Untuk "Sampah dan Problematikanya"

Posting Komentar